SEBUAH PERBINCANGAN
Salah seorang dari 1.800 teman facebook mengirim pesan. Ia tanya nomor handphone saya. Ia ingin 'belajar menata pikiran dan hati'. Saya menduga, ini pasti urusan rumah tangga. Setelah beberapa hari tidak kunjung ditelepon juga, lalu saya mengirimkan pesan kalau agak kesulitan menghubungi saya, ia bisa menuliskan 'pengantar' atau 'mukaddimah' masalahnya lewat surat elektronik. Ia menjawab, ia sudah bisa menata hati dan tegar. Suaminya sudah bercerita dari A sampai Z hubungannya dengan perempuan lain. Ia introspeksi dan minta maaf kepada suaminya karena banyak kekurangan. Ia bertahan karena ia yakin anak-anaknya pasti akan jadi orang besar. Ia bertahan demi kebahagiaan mereka. Dari kalimat yang ia tulis, saya merasakan adanya keinsyafan dari teman saya itu untuk melihat ke depan. Sebagai peristiwa yang mengguncang emosi, mereka pasti butuh waktu untuk melalui proses recovery. Buktinya, waktu saya tawarkan suaminya ikut pelatihan saya di sebuah kota, ia bilang...